Senin, Februari 02, 2009

Tawakkal Bukan Tidak Ikhtiar

Dalam meningkatakan mutu ilmiah, amaliah dan dzauqiyah dalam rangka ibadah pengabdian kepada Allah Swt, kiranya perlu dikaji dan direnung ulang, sekaligus evaluasi diri tentang tawakkal kita kepada Allah Swt, yang sering kita ucapkan dengan “pasrah bongkokan”. Tawakkal merupakan amaliah qalbiah yang sangat fundamental hubungannya dengan iman tauhid, bahkan berpaut erat dengan pilar/rukun iman yang keenam, yaitu iman kepada qadar khoirihi wasyarrihi minallah. Lebih diharapkan agar kita dapat melaksanakan tawakkal dengan baik dan benar berdasarkan pengajaran TQN.
Tawakkal adalah pasrah dan menyandarkan hati (qalbu) sepenuhnya hanya kepada al-Wakil yang Maha mewakili yang Maha Hak (Allah).

Toko sufi Dzun Nun Al-Misri r.a. menyatakan, tawakkal adalah tidak turut serta mengatur diri dan melepas daya kekuatan karena telah menyakini bahwa tiada daya dan kekuatan (yang dimiliki manusia) selain semata-mata dari Allah. Allah Swt. berfirman yang artinya : “ Dan hanya kepada Allah saja orang bertawakkal itu berserah diri.” (Qs.Ibrahim;12). “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Qs. Al-Maidah: 23). “ Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Qs. Ali Imran: 159). “Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (Qs. At-Thalaq: 3). Dan masih banyak lagi dalam surat yang lain.
Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “ Ya Allah sungguh aku memohon taufik-Mu untuk mencintai-Mu melalui amal-amal dan untuk bertawakkal kepada-Mu dengan benar dan untuk berbaik sangka kepada-Mu.”

Hakikat Tawakkal

Hakikat tawakkal adalah suatu kondisi batin yang tauhid. Yakni qalbu (hati nurani) sesorang yang ditajalli dan mendapat pancaran sifat wahdaniat Allah sehingga qalbunya sadar menerima dan membenarkan (makrifat). Kondisi makrifat ini nampak pengaruhnya dalam amal.
Makrifat adalah dasar tawakkal, yakni tauhid. Orang yang bertawakkal kepada Allah adalah orang yang tidak melihat obyek lain selain Allah. Kesempurnaan makrifat ini diterjemahkan dalam peryataan : “ Tiada Tuhan selan Allah sendiri, tiada sekutu baginya. Dia memiliki segala kekuasaan dan baginya segala pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Sedang manfaat tawakkal antara lain sebagai berikut:
1. Iman semakin mantap, qalbu tenang, jiwa tenteram, berfikir jernih, pandangan jauh dan dalam bertindak terarah dan terbimbing.
2. Mendapat jaminan kecukupan rizki dari Allah
3. Ridho terhadap ketetapan (qadar) Allah, meningkat dan jauh dari tamak dan hasud

Kondisi Derajat Tawakkal
Ditinjau dari segi kekuatan dan kelemahan maka, kadar tawakkal ada tiga tingkatan :
Tingakat pertama, keadaan benar-benar yakin terhadap penyerahannya kepada Allah dan pertolongan-Nya. Seperti keadaanya yang yakin terhadap orang yang ditunjuk sebagai wakilnya. Untuk memilih wakil harus selektif melalui proses pemikiran dan pertimbangan.
Tingkatan kedua, (tingkatan ini lebih kuat lagi), yaitu keadaanya bersama Allah seperti keadaan anak kecil bersama ibunya. Anak itu tidak melihat orang lain selain ibunya dan tidak mau berpisah dan senantiasa bergelayut memegangi tangan ibunya. Tidak mau bersandar kecuali kepada ibunya sendiri. Jika ia menghadapi suatu masalah, maka pertama sekali yang terlintas dalam hatinya dan yang pertamakali terlontar dari lidahnya adalah ucapan “ibu”.
Siapa yang pasrah kepada Allah, memandang dan bersandar kepada-Nya, maka keadaanya seperti keadaan anak kecil dengan ibunya, kepasrahan anak kecil kepada ibunya tidak berdasarkan pemikiran dan pertimbangan, hanya kepercayaan yang penuh dan bulat.
Tingkatan ketiga, (tingkatan paling tinggi) keadaannya dihadapan Allah seperti mayit ditangan orang yang memandikannya. Dia tidak berpisah dengan Allah melainkan dia melihat dirinya seperti orang mati.

Amal (Tindakan Orang-orang yang Tawakkal)
Sebagian manusia ada yang beranggapan bahwa makna tawakkal tidak perlu berusaha, bekerja dan bertaubat hanya menyerah kepada hal-hal yang membinasakan. Anggapan ini salah, karena sikap itu bodoh dan haram menurut syara’. Syari’at memuji orang yang bertawakkal dan menganjurkan melakukannya. Pengaruh tawakkal akan nampak dalam gerakan hamba dan usahanya untuk menggapai tujuan, antara lain untuk mendatangkan manfaat yang belum ada, memilihara yang ada, mencegah bahaya agar tidak terjadi, atau menghilangkan marabahaya.

Bagi orang-orang yang semata-mata menempuh jalan akhirat , ia bertawakkal kepada Allah dalam masalah rizki, tidak membebani diri dengan mencarinya jika tidak mempunyai tanggungan anak dan istri. Ia percaya pada janji Allah dan berpegang teguh pada kesempurnaan, kemurahan dan rahmat-Nya. Karena Allah sesungguhnya telah menjamin dan mewajibkan atas Dzat-Nya dalam masalah rizki makhluknya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya yang artinya : “Dan tidak ada satu binatang melatapun dimuka bumi ini melainkan Allah lah yang memberikan rizkinya.”(Qs Hud:6)

Orang yang bertawakkal tanpa usaha mencari rizki disebut Mutajjarid (maqam Tajrid). Adapun bagi Mu’il (orang yang mempunyai tanggungan anak dan istri) maka tidak boleh meninggalkan usaha dalam masalah rizki keluarganya. Karena kalau tidak usaha akan membawa kehancuran, sehingga tidak ada yang ia peroleh kecuali siksa. Maka seharusnya ia bertawakkal seperti tawakkalnya orang yang bekerja, sebagaimana sahabat Abu Bakar ra. yang juga bekerja (maqam kasbi). Tawakkal juga tidak berkurang karena mengenakan baju besi saat pertempuran, menutup pintu pada malam hari, mengikat onta dengan tali dan berobat bila sakit. Tangan tidak mengambil makanan padahal lapar. Karena sebab akibat merupakan sunatullah yang tidak berubah.

Hubungan tawakal dan bekerja (berusaha) adalah; berkerja tidak mutlak berarti tidak tawakkal, tidak bekerja belum tentu ia bertwakkal. Bisa jadi ia tidak bekerja juga tidak tawakkal. Bertawakkal adalah kewajiban hamba , hak Allah menjamin kecukupan rizki. Melaksanakan kewajiban dengan tanpa menoleh hak adalah sangat dianjurkan. Dalam berusaha dan bekerja supaya dialakukan dengan baik dan benar. Yaitu jangan mengandalkan usaha dan kerjanya, hanya mengandalkan Allah Swt. Juga menyadari bahwa kemauan-kemaun dalam usaha dan bekerja adalah semata-mata atas ciptaan, pemberian dan pertolongan Allah, kita tidak mepunyai kemampuan apa-apa.


Sumber : Majalah Robithoh (edisi 1-30 Muharam 1430)
Dibacakan pada:
Kajian Sabtu Malam Minggu (31 januari 2009)
Ikhwan TQN (suryalaya) Vila Mutiara Gading, Bekasi


Selengkapnya >>

Minggu, Januari 25, 2009

Kajian Malam Minggu
Ikhwan TQN (suryalaya) Vila Mutiara Gading Bekasi
Bacaan : Tanbihul ghofilin (Al-Faqih abdul laits As-Samarqandy)
Bahsan : Dengki


Al-Faqih menuturkan dari Muhammad bin Al-Fadhl, dari Muhammad bin Ja’far, dari Ibrahim bin Yusuf , dari Abu Mu’awiyah, dari Al-Am’masy dari Yazid Ar-Raqqasyi, dari Al-Hasan, dari Nabi Saw. Beliau bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya iri hati dan dengki itu memakan kebaikan sebagaiman api memakan kayu bakar.”

Dari sanad seperti diatas, ibrahim bin Aliyyah meriwayatkan dari Ubbad bin Ishaq, dari Abdurrahman bin Mu’awwiyah, bahwa Nabi Saw bersabda yang artinya:

“Ada tiga hal yang seseorang tidak akan selamat dari ketiganya , yaitu: perasangka,dengki, dan takut sial karena sesuatu. Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apakah yang bisa menyelamatkan diri dari ketiga hal itu?, ‘apabila kamu dengki, maka jangan kamu lanjutkan, apabila kamu berperasangka, maka jangan kamu buktikan, dan apabila kamu merasa takut sial karena sesuatu, maka jangan kamu hiraukan.”

Maksudnya, apabila ada rasa dengki di dalam hatimu, maka jangan kamu nyatakan , karena Allah tidak akan menghukum kamu atas apa yang ada didalam hatimu selama belum kamu ucapkan dengan lisan atau belum kamu kerjakan, mengenai perasangka, jika kamu mempunyai perasangka yang tidak baik kepada sesama muslim, maka kamu jangan berusaha menyelidiki selama hal itu tidak kelihatan. Dan mengenai persaan takut sial karena sesuatu, maka perasaan itu apabila kamu hendak bepergian kemudian kamu mendengar suara burung hantu, atau burung gagak, atau kamu merasa ragu-ragu, maka persaan itu jangan kamu hiaraukan.

Selengkapnya >>

Selasa, Januari 20, 2009

Ungkapan Ahli Tasawuf dan Ahli fiqih

Pernahkah kita mendengar peryataan ahli Tasawuf dan Ahli fiqih tentang suatu hal?. Coba kita lihat ungkapan berikut ini!.
Ahli Tasawuf berkata :
“Lebih baik orang yang zina tapi taubat, dari pada orang sembahyang yang melamun tapi merasa bangga”.
Disisi lain seorang ahli fiqih berkata:
“Lebih baik orang yang sembayang melamun daripada orang yang zina”.
Apa yang terdapat dipikiran anda tentang peryataan tersebut?. Memang, tidak ada yang salah dari setiap pendapat, tapi kalau saya boleh berpendapat ungkapan tersebut seolah antara ahli fiqih dan ahli taswuf saling meyatakan bahwa pendapat mereka yang paling benar.
Kalau dilihat dari sudut pandang tasawuf tidak akan berarti apa-apa kita melakukan ibadah shalat kalau qalbu kita lalai dari mengingat Allah (dzikrullah),tapi dari sudut pandang fiqih kalau kita sudah melakukan ibadah sahalat kalau sudah benar syarat dan rukun maka itu juga sudah benar menurut ilmu fiqih, dan memang fiqih adalah ilmu yang menagatur tatanan lahiriah (zhohir) sementara tasawuf ilmu yang mengatur tingkah laku bathin, karena memang antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena itu dalam beribadah gerak gerik lahiriah kita harus mengikuti ketentuan syariah (ilmu fiqih) sementara batiniah harus mengikuti ketentuan tasawuf (ihsan) tentang Ihsan.Rasul menjelaskan: Ihsan adalah bahwa
dalam ibadahmu engkau seakan-akan melihat Allah, dan kalaupun engkau tidak melihat Allah engkau merasa sedang dilihat oleh Allah swt, hal ini sesuai dengan sebuah ungkapan : “Barang siapa berfiqih dan tidak bertasawuf maka ia fasik, dan barang siapa bertasawuf tanpa fiqih maka ia zindik, dan barang siapa mempelajari keduanya maka ia sudah mendapatkan hakekatnya agama”.

Selengkapnya >>

Minggu, Desember 14, 2008

Senang Menerima Cobaan Dunia

Saudaraku, segala kemurahan (rukhsah) yang datang dari Allah dan rasul-Nya harus kalian ambil. Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa Allah menyukai bila segala kemurahannya dipergunakan, sebagaimana halnya Dia menyenangi segala ketentuan pastinya (azimah) dilaksanakan.
Sejatinya kalian harus senang dengan setiap kemudahan yang Allah berikan. Ada riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. Sangat menyukai urusan-urusan yang ringan dan mudah. Oleh karenanya, kalian jangan hengkang dari setiap urusan yang baik. Jika ada musibah, kalian jangan menentangnya, itu semua bukan kehendak kita.
Musibah: Bentuk perhatian Allah pada hamba-Nya
Apabila ditimpa ujian dan cobaan dari Allah Swt, kalian harus menghadapinya dengan penuh kesabaran. Meskipun pahit, kalian harus menyadarinya bahwa itu semua adalah bentuk perhatian Allah pada hamba-Nya.
Dalam menerima kseulitan kalian jangan mengeluhkannya. Hal itu dapat menyurutkan kesabaran. Perlu disadari kesulitan itu merupakan salah satu bentuk perhatian Allah pada hambanya. Oleh karenanya kalian harus menjauhkan diri dari sikap mengeluh dan tidak menerima atas ketentuan Allah Swt. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Swt berfirman, “siapa yang tidak rela dengan ketentua- Ku dan tidak sabar atas musibah_Ku, maka ia dipersilahkan untuk mencari tuhan selain Aku.”. dalam hadits Qudsi lainya, Allah Swt berfirman, “Siapa yang rela dengan hukum dan ketentunku, maka ia akan mendapat keridhaan-Ku. Jika ia menemui-ku, Aku akan meridhainya. Akan tetapi, siapa yang tidak terima dengan hukum dan ketentuanku , maka ia layak mendapatkan kemaran-Ku. jika ia menemui-Ku, Aku akan memarahinya.”

Musibah seabagai Penghapus Dosa
Musibah itu merupakan salah satu bentuk perhatian Allah atas hamba-hambanya. Oleh karenanya kalian jangan bersedih menerimanya. Ketahuilah kebahagian itu terletak pada musibah yang terjadi di dunia ini, itu semua merupakan investasi bagi orang-orang yang sabar. Dengannya, dosa-dosa yang di perbuat dapat terhapus.
Dalam sebuah riwayat seorang ulama berkata “ orang tidak senang dalam menghadapi musibah karena tidak mengharapkan dosanya terhapus, maka malaikat berkata, ‘semoga penyakitnya tidak kunjung sembuh.”
Pilhan Allah lebih baik daripada pilihan Hamba-Nya
Orang yang menyakini adanya kebaikan dalam pilihan Allah, ia pasti akan senang dalam menerima segala musibah yang menimpanya. Ia terlihat enteng menghadapinya, karena kebahagian akan segera menyonsong nya. Orang merasa diperhatiakan oleh Allah, ia akan gembira dalam menerima segala macam kesulitan. Dengan bersikap seperti itu, ia telah menghapus dosa-dosa (kecil) yang diperbuatnya. Allah pun akan memberikan pahala yang berlipat ganda padanya. Di akhirat nanti, dia akan bahagia selama-lamanya . semoga Allah meridhai kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang berbahagia.
Sederhan Penuh Berkah
Al-Harits al-Muhasibi
Pustaka islam klasik. Serambi

Selengkapnya >>

Sabtu, Mei 24, 2008

Tawhid

Asal Usul Kata

Tawhid berasal dari kata wahid (satu), lalu wahhada (men-satu-kan), menjadi tawhid (pen-satu-an). Kita lebih mudah memahaminya sebagai peng-esa-an, atau pe-nunggal-an. Penyatuan adalah mengambil seluruhnya lalu dijadikan satu sekaligus. Sedangkan pensatuan memisahkan yang satu dari yang lainnya, hanya menerima atau mengakui yang satu dan menyingkirkan yang lainnya. Dalam ilmu teologi tawhid bermakna meyakini/mengakui hanya satu Tuhan, tidak mengenal Tuhan yang majemuk; baik yang berbilang menjadi dua, tiga, atau empat; maupun Tuhan yang bersekutu, misalnya tiga Tuhan menjadi satu. Tawhid adalah monoteisme murni.

Ilah (ilahun) terjemahan teknisnya berarti Tuhan, God (Inggris), Theos (Yunani). Secara semantik istilah Ilahun dalam bahasa Arab berasal dari kata Laha dan Aliha (lihat buku Al-Ishthilahat al-arba`ah fi al-Qur’an, Abul A`la al-Mawdudi).

Laha artinya mengabdi, melayani, meladeni dan memperturutkan. Ilahun adalah bentuk pasif dari Laha, artinya: yang diabdi, yang dilayani, yang diladeni, yang diperturutkan.

Aliha artinya mencintai, merindui, mengharap, mendamba, menginginkan, mendekatkan diri. Ilahun (bentuk pasif Aliha) berarti: yang dicintai, yang dirindui, yang diharap, yang didamba, yang diinginkan, yang didekati.

Laa Ilaaha adalah prinsip peniadaan atau penafian, maknanya: tiada yang diabdi, tiada yang dilayani, tiada yang diladeni, tiada yang diperturutkan, tiada yang dicintai, tiada yang dirindui, tiada yang diharap, tiada yang didamba, tiada yang diinginkan, tiada yang didekati.

Illallah adalah prinsip pengecualian sekaligus penegasan sebagai ‘hanya yang satu-satunya’ (the only). Tiada yang diabdi, dilayani, dicintai, didamba diharap, dijadikan tujuan dan tempat bergantung, kecuali Allah.

Kalimat Tawhid Membentuk Sebuah Kerpribadian.

Ketika seseorang mengucapkan kata Laa Ilaaha artinya dia membebaskan dirinya dari segala bentuk ketergantungan, dari segala bentuk pengejaran, dari segala bentuk keinginan, dari segala bentuk pengabdian dan kecintaan kepada apapun. Lalu dengan kalimat Illallaah dia menegaskan, mengokohkan dan menguatkan bahwa segala bentuk ketergantungan, pengejaran, keinginan, pengabdian, dan segala bentuk kecintaan diarahkan hanya untuk Allah semata.

Kalimat Tawhid dapat menimbulkan efek individual, yaitu membentuk sebuah kepribadian dengan jiwa yang bebas dan merdeka dari segala bentuk ketergantungan dan pengabdian kecuali kepada Allah. Dengan tertanamkan tawhid akan terjadi proses pembebasan dan pemerdekaan pada diri seseorang. Ini adalah kekuatan dahsyat. Bukan hal yang mudah membentuk jiwa bebas dan merdeka. Banyak orang yang terdidik pandai tapi tidak kreatif karena gagal membebaskan dirinya dari belenggu prasangka dan ketakutan. Banyak politisi berkuasa besar tapi gagal membebaskan dirinya dari keserakahan dan kezhaliman. Apalagi orang yang miskin dan tertindas, terbelenggu lahiriahnya, terbelenggu pula jiwanya oleh berbagai ketakutan dan angan-angan.

Selain mempunyai efek individual kalimat Tawhid juga mempunyai efek sosial, yaitu membentuk jiwa yang egaliter. Orang yang bertawhid sadar tidak akan mau merendahkan diri di hadapan orang lain, sekaligus juga tidak mau merendahkan orang lain di hadapan dirinya. Dia berusaha membebaskan dan memerdekakan orang lain dari segala bentuk peng-ilah-an kepada selain Allah. Dia tidak mau memperbudak orang lain, tidak menaklukan dan tidak pula menguasai orang lain. Sebagaimana hanya Allah yang boleh menjadi ilah bagi dirinya, maka bagi orang lain pun hanya Allah yang boleh di-ilah-kan. Orang yang bertawhid tidak berhasrat mengkondisikan orang lain untuk takluk dan memper-ilah dirinya, tidak mengizinkan dirinya disembah oleh orang lain.

Pembentukan Kalimat Tawhid dalam Diri.

Dalam kehidupan ini ada sesuatu yang bisa kita pahami dengan pendekatan akal, yaitu melalui proses fikir, rasional yang dapat dimengerti. Tapi ada juga yang tidak dapat dipahami secara rasional, yaitu melalui proses dzikir, misalnya bagaimana bisa menghayati dan membentuk sebuah refleks dalam dirinya dengan pengucapan Kalimat Tawhid itu.

Proses dzikir itulah yang akan membentuk suatu kesadaran iman berupa pengakuan akan kebesaran, kehebatan dan kesucian Allah. Kalimat Tawhid itu tidak hanya dimengerti, tapi juga harus dihayati dan dirasakan dan itu harus melalui praktek atau riyadhah yang sungguh-sungguh dan berulang-ulang.

“Dan sembahlah (beribadahlah) Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini”.
(QS. Al-Hijr, 15:99)

Dalam dunia tasawuf, ada praktek-praktek dzikir yang diajarkan melalui perkumpulan-perkumpulan tarekat sebagai bentuk riyadhah, bagaimana dapat menancapkan Kalimat Tawhid itu dalam dirinya sampai menyentuh qalbunya.

Kadang-kadang seorang murid yang mempraktekkan dzikir secara sungguh-sungguh dan intensif berada dalam konsentrasi penuh dan kesadaran yang memuncak penuh terhadap Allah ( mabuk Allah), hingga ekspresinya terlihat seperti orang yang lupa diri. Padahal dia tidak lupa diri, justru dia sadar sedang berhubungan dengan Allah dan dia merdeka dari yang selain Allah.

Ada juga yang dalam berdzikir menggerak-gerakan kepalanya. Hal itu merupakan sebuah upaya untuk menangkap makna kalimat dzikir yang diucapkan bahkan bisa juga kalimat dzikir itu membentuk gerakan-gerakan secara reflek. Karena jika seseorang semakin peka, dia dapat menangkap pesan-pesan Allah dengan baik. Sebagaimana firman Allah :

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah qalbu mereka…"
(QS. Al-Anfaal, 8:2)

Getaran qalbunya itu akan menggetarkan tubuhnya melalui gerakan-gerakan.

Pembentukan Kalimat Tawhid dalam Kehidupan Sosial.

Betapapun prinsip Tawhid itu Allah ajarkan pada kita, tetapi bukan berarti setelah ingat Allah lalu tanggung jawab terhadap lingkungan diabaikan, sebab ketika seseorang melepaskan pengabdian, penghambaan dan pengejaran terhadap lingkungan, tanggung jawab /fungsi terhadap lingkungan sosialnya harus tetap terlaksana.
Ketika dia hanya tunduk, patuh dan pasrah pada Allah saja, dia menerima konskuensi perintah dari Allah. Allah berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
(QS. Adz Dzaariyaat, 51:56)

Salah satu bentuk Ibadah manusia dalam menjalankan fungsi kekhalifahannya, yaitu membuat kemakmuran di muka bumi.
Firman Allah:

“…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya…"
(QS. Huud, 11:61)

Dalam diri seorang yang bertawhid, dia dapat memutuskan dari kecintaan dan pengejaran terhadap lingkungannya tetapi dia tidak putus dari fungsi dan tanggung jawab lingkungan sosialnya. Jika dia berhubungan dengan lingkungannya, bukan dalam rangka kecintaan pada dunia tetapi dalam rangka melaksanakan tugas yang diperintahkan Allah.

Dengan demikian bagi orang yang bertawhid, dia mampu mengembangkan dzikir dan fikirnya dalam menjalani kehidupannya di dunia sebagai konsekuensi fungsi kekhalifahannya. Dia selalu ingat Allah dalam hubungan ibadah vertikal kepada-Nya juga dalam ibadah horizontal, terhadap lingkungan sosialnya. Setiap aktifitas sebagai hasil dari dzikir dan fikirnya akan menimbulkan kesan kagum akan kesempurnaan alam dan itu akan membawanya pada kesadaran betapa sempurnanya yang menciptakan alam, yaitu Allah swt. maka dia pun berdo’a:

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka“
(QS. Ali Imran, 3:191)

By: Wahfiudin SE, MBA

Selengkapnya >>