Senin, Desember 31, 2007

Aliran Sesat?

Source: http://www.qalbu.net
Kehadiran agama di muka bumi bermula dengan diutusnya seorang rasul dari langit. Langit adalah pusat spiritualitas dan bumi adalah sumber materialitas. Agama, selain dipahami sebagai nama atas suatu ajaran, boleh juga dipahami sebagai nama atas suatu proses, yaitu proses spiritualisasi. Kehadiran seorang rasul membawa enerji spiritualitas besar untuk melakukan spiritualisasi di muka bumi yang materialistik ini. Maka jangan heran kalau ada tindakan para rasul yang extraordinary atau supernatural, seperti nampak pada berbagai mukjizat, karena dimensi spiritualnya melebihi tampakan material. Mukjizat selalu saja mengatasi alam (bumi) karena mukjizat adalah spitirulitas yang mematerial. Maka terlihatlah agama bertumpu pada tiga penyangga utama yaitu spiritualitas, rasul dan mukjizat.Bukanlah ulama kalau hanya dapat melakukan tilawah dan taklim saja tanpa melakukan tazkiya. Agama memang bukan sekadar membacakan kitab suci dan menerjemahkannya saja. Kalau itu yang terjadi maka agama menjadi sangat simbolik dan materialistik sekali, kehilangan ruhaniahnya. Maka bukan ulama kalau hanya banyak bacaan dan tinggi ilmu namun hampa spiritulitas. Mereka boleh disebut pakar (fakkâr, yang banyak fikirannya) tapi bukan ulama (`ulamâ, yang mendalam pengetahuannya) karena memang tak semua fikiran dapat dianggap sebagai ilmu pengetahuan.

“Menjadi muslim yang kaffah itu cukup berpegang pada Qur’an dan Hadits saja…”, begitu ucap seorang khatib berapi-api. “Apa yang tidak ada di Qur’an dan Hadits adalah bid`ah, dan setiap bid`ah adalah sesat. Maka tak perlu berpegang pada yang lain. Cukup Qur’an dan Hadits saja…", tuturnya melanjutkan pidato. Retorika seperti ini sangat sering kita dengar dari ustadz-ustadz muda berjenggot panjang, bercelana panjang sebatas betis, dahi hitam dan tatapan mata nyalang yang siap menelan siapapun yang menghadang karena merekalah pembawa pedang kebenaran sejati yang paling siap berlaga di medan perang. “Allahu akbar…!” teriaknya sebagai pamungkas yang mengunci mati bahwa apa yang disampaikan adalah kebenaran final yang tak perlu dipertanyakan lagi. Semua sudah selesai…

Apa dalilnya? Dalil yang selalu berulang dikumandangkan adalah sebuah hadits dari kitab Al-Muwaththa’ Imam Malik yang berbunyi: “Kutinggalkan pada kalian dua hal, sepanjang kalian berpegang pada keduanya kalian tidak akan pernah sesaat selamanya: Kitabullah dan Sunnah nabi-Nya”.

Jadi, pedoman beragama sederhana saja, Kitabullah dan Sunnah Rasul. Lain dari itu adalah bid`ah. Segala yang bukan dari keduanya adalah bid`ah. Supaya tidak terkena kategori sebagai sesuatu yang baru (muhdatsat) dan inovasi mengada-ada (bid`ah) maka jangan memahami Qur’an-Hadits secara kreatif. Jangan lakukan analisis yang mendalam baik secara semantik, historik apalagi teleolojik. Pahami semua teks-teks Qur’an-Hadits semata-mata secara harfiyah (literal). Tak perlu makna yang tersirat, cukup yang tersurat.

Tentu saja model pemahaman yang seperti itu hanya akan mengungkap pesan-pesan keagamaan yang kering, pesan yang tercerabut dari keadaan dan suasana sekitarnya, pesan yang tak peduli pada sebab, tujuan dan manfaat. Pesan yang tak hirau dengan manusia, karena beragama yang taat tidak perlu menjadi manusiawi (insani), cukup Ilahi saja. Agama itu dari Tuhan, jadilah orang yang taat pada Tuhan, jangan cengeng dengan hal-hal yang manusiawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar